info@astuin.org | Phone : +62 21 6685301

20 September 2017 - 02:00 WIB, Oleh : Sri Mas Sari

 

JAKARTA--Kenaikan stok ikan lestari dalam dua tahun terakhir tak serta-merta membuat gembira pelaku usaha perikanan tangkap. Pasalnya, peningkatan potensi sumber daya ikan itu tak diikuti dengan keleluasaan memanfaatkan.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dikukuhkan oleh Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas Kajiskan) menyebutkan stok ikan melesat 71% dari 7,3 juta ton pada 2013 menjadi 12,5 juta ton pada 2016.

Namun, perkembangan utilisasinya tak secepat lompatan stok ikan lestari yang dilaporkan. Jika membandingkan produksi perikanan tangkap pada 2013 sebanyak 5,1 juta ton dengan stok ikan lestari tahun itu, maka utilisasi mencapai 69,9%. Angka itu turun menjadi hanya 54,4% pada 2016 meskipun saat itu produksi perikanan tangkap dilaporkan terus naik menjadi 6,8 juta ton (tabel).

"Jadi, jelas potensi sumber daya ikan cenderung semakin kurang optimal dan kesenjangan potensi dan hasil tangkapan cenderung semakin melebar," kata Sekjen Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Hendra Sugandhi dalam 2nd Sciences Business Forum di IPB, Selasa (19/9).

Bagi pelaku usaha, tutur dia, prospek bisnis perikanan bukan sekadar membanggakan betapa besar potensi sumber daya ikan, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara optimal dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Pada saat yang sama, tren ekspor perikanan merosot selama tiga tahun terakhir, yakni dari US$4,5 miliar pada 2014 menjadi US$4,2 miliar pada 2016.

Selama 8 bulan terakhir, total izin yang dikeluarkan Ditjen Perikanan Tangkap bertambah 14% dari semula 3.691 kapal per 27 Jan 2017 menjadi 4.209 kapal per 18 Sep 2017. Berdasarkan komposisi alat tangkap, kenaikan signifikan terdapat pada kapal pancing cumi, kapal jaring insang oseanik, dan pancing rawai dasar.

Astuin melihat kenaikan potensi perikanan tak diikuti dengan kesigapan pemerintah menyiapkan armada penangkap ikan. Pelarangan operasi kapal buatan luar negeri tak segera digantikan oleh bantuan kapal yang dijanjikan pemerintah untuk nelayan.

Berdasarkan berita acara serah terima bantuan kapal yang dilakukan KKP hingga 31 Desember 2016, kapal yang diserahterimakan kepada koperasi nelayan hanya 48 kapal. Padahal sebelumnya, ada sekitar 1.782 kapal, termasuk kapal buatan luar negeri, yang delisted. Menurut Hendra, bantuan kapal KKP tidak akan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan tangkap.

"Pertanyaannya bagaimana produksi perikanan tangkap tetap meningkat?" ujarnya.

KAPAL MEROSOT

Sementara kapal berbendera Indonesia yang terdaftar di organisasi pengelolaan perikanan regional (RFMO) merosot. Kuota penangkapan tuna mata besar (big eye) di WCPFC misalnya, mencapai 5.889 ton, tetapi sama sekali tidak dimanfaatkan karena kapal yang terdaftar di WCFCF hanya 15 kapal purse seine dan pole and line.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat mengaku tak mempermasalahkan ekspor perikanan yang turun selama konsumsi dalam negeri meningkat. KKP mencatat, terjadi kenaikan konsumsi ikan dari 41,1 kg per kapita per tahun menjadi 43,9 kg per kapita per tahun.

Namun, pengamat ekonomi perikanan Luky Adrianto berpendapat perikanan adalah sebuah 'business system thinking', yakni koneksi antara kelimpahan sumber daya ikan dan pemanfaatannya untuk bisnis dan ekonomi rakyat nelayan secara berkelanjutan.

"Itulah hakikat ilmu perikanan, tidak bisa parsial satu sama lain karena saling terkait. Membicarakan SDI [sumber daya ikan] tidak bisa terlepas dari pemanfaatannya. Demikian juga sebaliknya," katanya.

Kesenjangan antara potensi sumber daya ikan dan hasil tangkapan cenderung semakin melebar.

Tren ekspor perikanan merosot selama tiga tahun terakhir, yakni dari US$4,5 miliar pada 2014 menjadi US$4,2 miliar pada 2016.

 

Editor : M. Rochmad Purboyo

Copyright © 2017 by Bisnis Indonesia.

Category: 

Comments

#pemanfaatan #potensi #target #kuota #tidakoptimal