info@astuin.org | Phone : +62 21 6685301

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi surplus dalam perdagangan sektor perikanan. Kepala BPS Suryamin mengatakan dari waktu ke waktu ekspor perikanan Indonesia terus mengalami peningkatan secara signifikan dibandingkan dengan impor perikanan

BPS mencatat pada tahun 2013 nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai US$ 2,86 miliar, kemudian pada tahun 2014 naik menjadi US$ 3,1 miliar. Lalu pada kuartal I 2015 nilai ekspor perikanan sudah menembus US$ 906,77 juta. 

"Ini peningkatan yang sangat signifikan, baru kuartal I tapi sudah mau mencapai US$ 1 miliar," kata Suryamin dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (18/5).

Dari total ekspor kuartal I 2015 tersebut tercatat komoditas yang paling banyak menyumbang nilai ekspor adalah udang yakni sebesar US$ 449,95 juta, terbesar kedua yakni tuna dengan nilai US$ 89,41 juta dan terbesar ketiga disumbang oleh komoditas cumi-cumi yakni senilai US$29,51 juta. 

Sementara total impor perikanan pada kuartal I 2015 mencapai US$ 67,42 juta. Artinya, lanjut Suryamin, terjadi surplus US$ 839,35 juta pada perdagangan sektor perikanan pada kuartal I 2015.

"Kalau kita hitung kita surplus US$ 839,35 juta baru Januari- April.Surplus US$ 839,35 juta berasal dari ikan," kata Suryamin.

Suryamin yakin, peningkatan ekspor tersebut merupakan hasil upaya pemberantasan aksi pencurian ikan sehingga mampu mendongkrak produksi perikanan dalam negeri.

"Kalau nanti Bu Menteri Susi mengembangkan perikanan lagi dalam beberapa tahun kedepan saya tidak bisa bayangkan loncatan kedepannya pasti akan sangat luar biasa," kata Suryamin.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku terkejut dengan data statistik tersebut. "Impor turun jauh karena kebutuhan dalam negeri sudah bisa terpenuhi. Melihat angkanya bikin saya merinding, saya suka melihat angkanya," kata Susi. (gir/gir)

Category: