info@astuin.org | Phone : +62 21 6685301

JAKARTA — Eksportir komoditas tuna akan meminta kepastian kepada Amerika Serikat terkait penolakan produk perikanan asal Indonesia, salah satunya melalui jalur Indonesia-United States Trade and Investment Framework Arrangement–Trade and Investment Council.

Kementerian Perdagangan mencatat penolakan terhadap produk tuna karena dugaan filthy atau berbau serta berwarna tak cerah sebagai salah satu hambatan perdagangan antara Indonesia dan AS. Pihak otoritas setempat belum merespons permintaan para eksportir untuk memperjelas standar yang digunakan.

Sekertaris Jenderal Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Hendra Sugandhi mengungkapkan, dari 78 kasus penolakan produk perikanan Indonesia food and drug administration (FDA) Amerika Serikat (AS) sepanjang 2016, didominasi oleh komoditas tuna.

“Ada 50 kasus penolakan sehingga dikhawatirkan memberikan dampak negatif baik untuk para eksportir yang bersangkutan maupun reputasi produk perikanan asal Indonesia,” kata Hendra kepada Bisnis, akhir pekan kemarin.

Dia menjelaskan 82% penolakan disebabkan dugaan kepada produk asal Indonesia yang dianggap filthy. Namun, dia menilai tuduhan tersebut subjektif karena hanya menggunakan sensory test.

Seharusnya, sambung dia, untuk masalah filthy tersebut dibuktikan dengan uji laboratorium yang objektif. Hal itu dapat dilakukan melalui uji total volatile base (TVB).

“Diperlukan harmonisasi uji laboratorium untuk standar keamanan pangan [food safety],” jelasnya.

Hendra menyebut alasan penolakan filthy hanya dimiliki oleh AS. Negara lain seperti Jepang dan Uni Eropa tidak menggunakan kategori tersebut.

Saat ini, Dia mengungkapkan produk perikanan asal Indonesia ditahan oleh FDA AS untuk dilakukan uji laboratorium. Pihaknya berharap mendapatkan kepastian dari Paman Sam terkait proses tersebut.

Menurutnya, waktu penahanan tersebut dapat menambah biaya yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha. Salah satunya terkait biaya penyimpanan produk.

“Harus ada kepastian berapa lama produk kita di-hold karena akan berdampak negatif atas mundurnya pelunasan pembayaran yang bisa mengganggu cash flow eksportir,” imbuhnya.

Hendra menyatakan telah menyampaikan keberatan kepara otoritas AS melalui importir di sana. Namun, hal tersebut tak mendapat tanggapan dari pihak FDA AS.

Astui saat ini belum mengeluarkan besaran nilai dan volume ekspor tuna Indonesia ke AS semester pertama 2017. Namun, berdasarkan perbandingan secara year on year antara periode 2016 dan 2015 terjadi penurunan kinerja ekspor.

Nilai ekspor pada semester I 2015 sebesar US$94,02 juta turun menjadi US$80,28 juta. Volume ekspor juga mengalami penurunan dari 12,79 juta kilogram menjadi 12,63 juta kilogram.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menyatakan untuk produk ekspor Indonesia yang mendapat penolakan harus ditelusuri penyebabnya. Setelah itu, harus dilakukan perbaikan.

“Kalau ditolak apapun caranya harus diperbaiki bukan dinegosiasikan. Siapa negara yang mau menerima produk rusak,” ujar Oke.

Dia mengatakan saat ini Indonesia dan para eksportir termasuk produk perikanan telah mengikuti standar yang berlaku ditingkat internasional. Dengan demikian, jika dalam praktiknya ada proses yang tidak sesuai maka harus dilakukan pembenahan.

“Standar di mana negara tujuan pasti diikuti namun kalau ada kesalahan bukan untuk dipaksakan negosiasi,” jelasnya. (M.Nurhadi Pratomo)

Sumber : Bisnis Indonesia (5/6/2017)

Category: