info@astuin.org | Phone : +62 21 6685301

Screen Shot 2020-08-23 at 20.30.01.jpg

Screen Shot 2020-08-09 at 22.07.27.png

 

QUO VADIS TUNA INDONESIA

Berbagai media massa dalam dan luar negeri baru-baru ini mengutip pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bahwa Indonesia penyuplai tuna terbesar dunia, bahkan beberapa media memuat berita bahwa Indonesia eksportir tuna terbesar dunia termasuk videonya sempat viral di media sosial. Banyak yang bertanya kepada penulis kebenaran dan validitas berita tersebut, hal ini yang mendorong penulis untuk menganalisis lebih lanjut fakta yang sesungguhnya agar publik memperoleh informasi yang benar.

Jumlah tangkapan ikan tuna dapat kita analisis dari database dan laporan tahunan setiap negara kepada Regional Fisheries Management Organization (RFMO), berbagai negara termasuk Indonesia.

Tahun 2016 hasil tangkapan tuna dunia mencapai 4.859.865 ton, sedangkan jumlah tangkapan tuna Indonesia yang dilaporkan resmi ke RFMO sebanyak 669.109 ton mayoritas penangkapan berbagai jenis tuna utama berasal dari Samudera Pasifik sebanyak 525.633 ton, dan penangkapan dari Samudera Hindia sebanyak 143.476 ton termasuk Tuna Sirip Biru 601 ton.

Tahun 2017 hasil tangkapan tuna dunia mencapai 4.733.159 ton, sedangkan hasil tangkapan tuna Indonesia 597.874 ton, Hasil tangkapan Indonesia menyumbang 12.63% tangkapan tuna dunia. Berdasarkan database IOTC jumlah tangkapan tuna Indonesia di Samudera Hindia sebanyak 131.605 ton termasuk Tuna Sirip Biru 375 ton tapi berdasarkan country report Indonesia, jumlah tangkapan tuna tahun 2017 jumlahnya 165.725 ton,  jadi ada discrepancy antara database IOTC dengan national report Indonesia sebanyak 34.120 ton. Sinkronisasi data perlu dilakukan karena jumlah hasil tangkapan akan menentukan besarnya variable fee yang harus dibayarkan Indonesia kepada IOTC sementara kapal yang terdaftar hanya 163 unit (14.078 GT)

Di sisi lain hasil tangkapan tuna Indonesia di Samudera Pasifik tahun 2017 yang dilaporkan ke WCPFC sebanyak 466.269 ton  dimana  80-85% berasal dari ZEEI dan lebih dari 60 % total tangkapan tuna berasal dari archipelagic water.

Kapasitas armada kapal penangkapan tuna Indonesia yang terdaftar di RFMO tidak dapat dipungkiri merosot drastis sejak 2014, paradoksnya total tangkapan tuna Indonesia tetap relatif stabil selama 4 tahun terakhir.

Klaim pemberantasan IUU Fishing telah meningkatkan potensi sumber daya ikan, tapi anehnya volume ekspor tuna dan cakalang relatif menurun sejak 2014. Spesies tuna dan cakalang juga tidak termasuk dalam angka estimasi potensi sumber daya ikan dalam Keputusan Menteri KP nomor 47 tahun 2016 dan Keputusan Menteri KP nomor 50 tahun 2017, konon alasannya karena ikan tuna dan cakalang termasuk yang spesies beruaya jauh, tapi estimasi potensi ikan highly migratory species lainnya seperti marlin, swordfish termasuk.  Pengelolaan sumber daya ikan tuna dan cakalang agar dapat optimal sebaiknya harus inklusif melibatkan semua stakeholder. Sumber daya ikan yang jumlahnya 12.54 juta ton memang membanggakan tapi sangat ironis  ternyata sangat tidak optimal pemanfaatannya hanya 3% oleh kapal penangkap ikan > 30GT. Pemanfaatan sumber daya ikan yang tidak optimal ini tentunya tidak searah UU Perikanan dan sangat bertolak belakang dengan cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Peringkat Indonesia Terancam Anjlok

Mengacu pada data laporan hasil tangkapan di WCPFC dan IOTC, Indonesia ternyata memang telah menduduki peringkat pertama penangkap tuna terbesar dunia sejak tahun 2011 sampai dengan 2017. Di Samudra Pasifik data hasil tangkapan Indonesia tahun 2017 menduduki peringkat pertama 466.269 ton, peringkat 5 besar selanjutnya adalah Papua Nugini 304.478 ton, Jepang 285.981 ton, Korea 265.540 ton dan Taiwan 223.146 ton

Di Samudera Hindia tahun 2017 untuk pertama kalinya posisi Indonesia tergusur dari peringkat pertama direbut oleh Spanyol dengan hasil tangkapan 151.622 ton, disusul Maladewa 139.759 ton, Indonesia menduduki peringkat ke 3 dengan jumlah tangkapan 131.605 ton disusul Seychelles 130.178 ton, Iran 113.0277 ton. Peringkat Indonesia terancam akan anjlok lagi di tahun mendatang bilamana tidak ada perubahan kebijakan dan masih minimnya pemanfaatan laut lepas

Thailand Merajai Ekspor Tuna Dunia

Berdasarkan data UNComtrade, International Trade Center, pada tahun 2018 Thailand menduduki peringkat pertama eksportir tuna dunia dengan volume ekspor 535.612 ton dengan nilai USD2.325.474, kemudian Spanyol 350.496 ton, Taiwan 339.135 ton, Equador 239.289 ton, China 218.984, Korea 210.791 ton, Papua Nugini 197.111 ton, Seychelles 171.975 ton. Sedangkan Indonesia menduduki peringkat ke 6 dunia  berdasarkan nilai USD710.110 dengan volume 167.695 ton. Nilai ekspor merupakan indikator yang penting, tapi bagi industri perikanan faktor volume ekspor tidak kalah penting karena terkait dengan optimal tidaknya pemanfaatan kapasitas produksi. Volume ekspor tuna Indonesia tahun 2018 justru merosot -15% dibanding tahun 2017 padahal sebelumnya mencapai 198.185 ton, hal ini cukup memprihatinkan dan berakibat turunnya peringkat Indonesia dari peringkat ke 6 menjadi ke 9 eksportir terbesar di dunia berdasarkan volume  untuk tahun 2018. Jika kita bandingkan hasil tangkapan tuna Indonesia dengan volume ekspor, maka rata-rata alokasi ekspor relative rendah kurang dari 30% (grafik 1).  Apakah ini akibat tuna hasil tangkapannya tidak layak ekspor karena kualitasnya rendah atau data jumlah tangkapan tuna Indonesia tidak valid, ini jadi pekerjaan rumah bagi pengambil kebijakan untuk membenahinya, sangat ironis jumlah laporan tangkapan tuna melimpah tapi impor tuna tahun 2018 meningkat

Kesimpangsiuran berita yang menyatakan Indonesia sebagai eksportir tuna terbesar di dunia telah meluas dan terlanjur memperoleh pujian dari berbagai kalangan masyarakat. Walaupun berita tersebut tidak sesuai fakta yang sesungguhnya, hal ini mencerminkan tingginya harapan masyarakat agar perikanan tuna Indonesia menguasai dunia. Kita harus optimis Indonesia pasti mampu menjadi eksportir tuna nomor wahid di dunia dalam 5 tahun ke depan dengan cara mengubah kebijakan yang mendukung pemanfaatan potensi perikanan tuna yang berkelanjutan. Percepatan industri perikanan tuna nasional akan sulit diwujudkan jika hanya mengandalkan kapal yang berukuran mini saja yang mayoritas hanya beroperasi di coastal area. Momentum yang tepat bagi Kabinet mendatang untuk segera menyusun strategi untuk menggalang kekuatan kapal penangkapan ikan kita di ZEEI dan laut lepas agar kita segera dapat memanfaatkan kuota perikanan tuna kita yang selama ini mubazir dan terancam diambil alih oleh negara lain.

WhatsApp Image 2020-08-14 at 10.52.42 (1).jpeg

#QuoVadisTunaIndonesia

#QuoVadisTuna

#EksportirTunaTerbesarDunia

#HoaxPerikanan

#MisleadingInfoPerikanan

#HendraSugandhi